Tradisi Grebeg Syawal


gunungansyawal.jpgSetiap memasuki bulan Syawal, Kasultanan Ngayogyakarta mengadakan ritual sedekah bumi yang disebut dengan Grebeg Syawal.

Jogjakarta, sebuah ibukota provinsi yang bergelar Daerah Istimewa. Sebuah wilayah di bumi Merah-Putih yang masih menjunjung tinggi budaya dan tradisi Jawa. Jogjakarta, dikenal juga sebagai kota pelajar, tempat dimana para pemuda dan pemudi menuntut ilmu. Tidak lupa, sebagai ibukota provinsi, Jogjakarta juga kental dengan aspek-aspek budaya khas ibukota, dimana teknologi berlomba membumi dengan masyarakatnya. Di tengah hiruk-pikuk itu, Kasultanan Ngayogyakarta, yang juga berwujud sebagai pemerintahan agung, tetap menggelar sebuah ritual, tradisi, yang disebut dengan Grebeg Pasa.

Ritual Grebeg ini hanya diadakan setahun tiga kali. Pertama, saat Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai akhir dari pesta rakyat, Sekaten, disebut Grebeg Mulud. Kedua, saat memasuki bulan Syawal, sebagai ungkapan terimakasih karena telah berhasil menjalankan ibadah puasa, disebut Grebeg Pasa atau Grebeg Syawal. Dan ketiga, pada tanggal 10 Dzulhijjah atau 10 Besar, yang dikenal sebagai Idul Adha, disebut Grebeg Besar. Memang, tradisi ini tidak lepas dari masuknya pengaruh Islam di tanah Jawa. Dan hanya di ritual Grebeg inilah rakyat bisa menyaksikan kesepuluh prajurit keraton dari dekat, terutama saat mereka mengawal Gunungan.

Semua jenis Grebeg menampilkan Gunungan sebagai penampil utamanya. Gunungan adalah sesaji yang ditata menjadi bentuk kerucut, bahannya adalah sayur-mayur hasil bumi sebut saja, Kacang Panjang, Cabai, Telur, dll. Untuk Grebeg Pasa, Gunungan hanya dibuat satu buah, berbeda untuk Grebeg Mulud yang dibuat dua buah. Gunungan ini kemudian diarak oleh para abdi dalem Keraton, dari bangsal Keraton menuju Masjid Agung Jogjakarta. Sesampainya di Masjid Agung, Gunungan ini kemudian diserbu oleh para rakyat yang telah menanti, untuk dipreteli. dan dibawa pulang, memang sayur-mayur itu dapat dengan mudah ditemui di pasar-pasar, namun segala hal yang berbau Keraton bagi rakyat Jogja yang masih teguh memegang tradisi adalah sesuatu yang keramat dan membawa rejeki. Istilahya adalah “Ngalap Berkah”.

Terlepas dari aspek “Ngalap Berkah”, tradisi rutin ini adalah sebuah daya tarik pariwisata bagi kota Jogjakarta. Tentu saja selain menggaet banyak wisatawan lokal maupun mancanegara, tradisi budaya ini menunjukkan bahwa Kasultanan Ngayogyakarta bagi rakyat Jogjakarta tidak hanya sebagai pemerintah tetapi juga sebuah ikon pengabdian rakyat kepada kepada pemimpinnya yaitu Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Sumber: himatika mipa ugm

About these ads
Comments
3 Responses to “Tradisi Grebeg Syawal”
  1. Syawal adalah akhir. Ia juga permulaan. Akhir dari rital suci Ramadan. Akhir dari keterburu-buruan spiritual yang begitu bersemangat agar tak tertinggal parsel ampunan dan tiket penukar kavling surga. Karena itu, Syawal menjadi awal dari sebuah kefanaan yang kembali pulang. Fana yang terusir sejenak oleh Ramadan.

    Jika Goenawan Mohamad terang-terangan menyebut bahwa yang dirayakan Ramadan adalah kekosongan (Tatal 59), izinkan saya melengkapinya: Syawal diciptakan untuk mengisi kekosongan itu. Meski sesungguhnya Syawal tak kan pernah bisa memerankannya.

    http://kalipaksi.com/2009/09/28/topeng-bulan-syawal/

Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] kota tercinta 9 02 2009 Tradisi Grebeg Syawal Posted on 3 October, 2007 by […]



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: