Fieldtrip ke Kaliadem


Hari ini hari sangat mengesankan. Jam delapan kami berangkat untuk darmawisata ke Kaliadem. Sejak minggu ini Ibu Katja dan saya punya kelas sendiri, jadi kami bisa pergi dengan dua guru. Guru Mas Geger, guru Mas Totok dan sopir Mas Heru menjemput kami di rumah kami di Jalan Pringgodani. Bersama-sama kami naik mobil ke gunung Merapi. Ketika naik mobil saya membeli koran dan mulai membaca koran ini. Di halaman tentang Yogyakarta saya membaca bahwa dua orang ditemukan di pantai. Mereka meninggal karena Tsunami minggu lalu. Sesudah koran saya bacakan kepada Ibu Katja, kami memutuskan bahwa akhir minggu ini kami tidak pergi ke pantai. Kalau pembaca tahu tempat bagus lain, tolong memasukan ide dengan komentar di bawah.

Kira-kira jam setengah sepuluh kami sampai di Kaliadem. Sesudah turun mobil untuk pergi sedikit dekat gunung Merapi kita punya masalah. Masalah ini karena di sana ada tulisan yang bilang bahwa pakaian warna merah, kuning dan oranye dilarang. Astaga, baju merah atau kuning dipakai semua keluarga Dally. Untunglah ada satu sweater di dalam mobil. Sweater ini harus dipakai Ibu Katja dan saya sudah mengenakan t-shirt putih yang biasa dipakai di bawah baju kuning. Jona dan Lea boleh pergi ke tempat dengan warna dilarang.

Pada tempat itu kami melihat kekuatan gunung Merapi. Semua tempat diselebungi dengan abu dan batu-batuan dari letusan gunung Merapi tanggal 14 Juni. Dari rumah-rumah yang tersisa di sana Anda hanya bisa melihat atap-atap. Dan awan panas membuat jalur besar pemisah antara dua bagian pepohonan di tengah hutan karena batu-batuan dan api. Ibu Katja dan saya merasa terkesan ketika kami mendengarkan suara dari gunung Merapi. Meskipun jauhnya 5 kilometer kami bisa mendengarkan Merapi bergemuruh.

Sesudah melihat tempat ini kami pergi ke sungai kecil, saya pikir namanya Kali Kuning dengan perjalanan kaki dengan anak-anak dan guru-guru.

Akhirnya kami harus menyelesaikan perjalanan ini karena waktu yang tepat untuk makan siang. Sambil makan siang semua orang dewasa menerima panggilan telepon dari teman-teman, teman kerja atau pacar. Kami punya banyak kelakar di restoran karena aktivitas telepon.

Kami bersenang-senang hari ini. Terima kasih Geger, Totok dan Heru.
Terima kasih Tuhan yang memberkati kita.

(Volker Dally – Mantan murid, bekerja dan tinggal di Malang – Indonesia)

Comments are closed.

%d bloggers like this: