Masangin


Alkid, kependekan dari alun-alun kidul.Alun-alun berarti halaman kediaman raja. Di Jogja, terdapat dua alun-alun besar yaitu alun-alun utara dan alun-alun selatan. Alun-alun utara merupakan halaman depan kediaman raja (Kraton) sementara alun-alun selatan merupakan halaman belakang Kraton Jogja. Daratan berbentuk persegi ini dikelilingi oleh semacam pagar yang disebut pancak suji. Banyak pohon-pohon besar ditanam di alun-alun. Sebut saja Pohon Beringin, Pakel, Kweni dan Gayam.

 

Selain itu, setiap alun-alun mempunyai dua beringin kurung di tengah-tengahnya. Beringin-beringin tersebut dikelilingi oleh semacam pagar dan cenderung dikeramatkan oleh masyarakat sekitar. Begitu juga dengan alun-alun selatan. Beringin kurung di Alkid memiliki makna simbolis laki-laki (sebelah barat) dan perempuan (sebelah timur). Di alun-alun ini pula terdapat kandang Gajah yang merupakan hewan peliharaan kraton dan Sasono Hinggil tempat digelarnya pementasan wayang kulit.

 

Salah satu hal yang membuat Alkid populer adalah kegiatan masangin yang dipercaya di kalangan masyarakat Jogja. Masangin atau masuk di antara dua beringin adalah ritual yang dilakukan dengan mata tertutup kemudian berjalan ke arah beringin kurung. Siapa yang bisa melalui celah diantara keduanya, dipercaya permohonannya akan terkabul. Entah kebetulan atau bukan, tidak semua orang yang ber”masangin” bisa melalui celah tersebut. Kebanyakan orang berjalan miring atau menyamping dari arah yang seharusnya.

 

Meski bukan tradisi yang berasal dari lingkungan Kraton, tradisi tersebut telah dipercaya sejak lama dan mengakar di masyarakat Jogja. Sekarang, datang ke Jogja tak lengkap rasanya tanpa melakukan masangin.

 

Namun, dalam perkembangannya, Alkid tak hanya terkenal karena masangin-nya tetapi juga karena semakin banyaknya orang yang menghabiskan waktu mereka di tempat ini. Alkid kini tak ubahnya seperti panggung. Dimana setiap pemain dari rentang usianya masing-masing memiliki waktu kemunculannya sendiri-sendiri.

 

Pagi hari, Alkid dipenuhi oleh orang-orang dewasa yang berolahraga dan menikmati sarapan bubur ayam, nasi uduk atau lontong opor. Ketika matahari mulai tinggi, giliran pedagang klithikan (barang bekas) berjualan di sana. Kemudian di sore hari, para orang tua mengajak anak-anaknya untuk berjalan-jalan dan bermain di Alkid. Menaiki komedi putar mini, kereta kelinci, mandi bola, berkeliling Alkid dengan andong kecil atau hanya menyuapi si anak sambil melihat Gajah.

 

Tak ketinggalan para penjaja makanan ringan seperti cimol, tempura, leker atau bakwan kawi ikut meramaikan sore di Alkid. Malam harinya, giliran anak-anak muda yang bertebaran di alun-alun. Sekadar duduk menikmati wedang ronde dan jagung bakar bersama pacar atau bersama teman-teman sekelas melakukan ritual masangin.

 

Untuk mencoba masangin Anda bisa menyewa penutup mata yang disewakan dengan harga Rp 3000. Atau, kalau Anda tak mau keluar uang, tutup saja mata Anda dengan sapu tangan atau kain dari rumah yang Anda bawa sendiri. Toh, tak akan mengurangi serunya ber-masangin di tempat ini.

 

Alkid kini memang telah menjelma menjadi ruang publik yang modern. Dari yang semula sebagai tempat latihan prajurit hingga menjadi salah satu alternatif tujuan wisata. Meski banyak berbenturan dengan perubahan zaman, Alkid masih menyisakan sisi-sisi orisinalitasnya.

 

Masangin adalah salah satu sisi orisinalitas tersebut. Tak banyak ruang publik yang bisa digunakan oleh siapapun, kapanpun, dari rentang usia berapapun. Alkid mencoba untuk menjawab kebutuhan tersebut. Dan sudah menjadi hak Anda utuk menikmatinya. Jadi, selamat ber-masangin di Alkid.

 

yogyes.com

Comments are closed.

%d bloggers like this: