Nya Kondusif


Ketika menjawab seorang anggota DPR dalam pertemuan di Gedung DPR Senayan, putra Abu Dujana antara lain mengatakan, “Sudah itu bapaknya jatuh dari motor dan meletakkan tangannya di belakang”, sambil memeragakan apa yang ia maksud dengan meletakkan tangannya di belakang itu. Putra Abu Dujana mengatakan “bapaknya”, padahal sebenarnya yang ia maksud “bapak saya”.

Dalam sebuah acara TV tentang liburan sekolah, seorang anak tampak asyik bermain di sebuah tempat hiburan. Ketika reporter televisi bertanya siapa yang mengantarkannya ke situ, anak itu menjawab, “Bapaknya”, bukan “Bapak saya”.

Kalau anak-anak menyebutkan suku kata nya sebagai kata ganti saya, kita dapat paham. Mereka belum mempelajari tata bahasa Indonesia sebagaimana mestinya. Jika yang menyebut nya orang terpelajar atau sebuah instansi resmi, toleransi tampaknya tak dapat diberikan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Pusat Bahasa, nya adalah bentuk varian ia/dia sebagai penunjuk pemilik, tujuan, dan penunjuk anafora. Yakni, rumahnya, membakarnya, olehnya.

Karena itu, jawaban teman saya, “Bukan, itu istri saya”, benar saat petugas kelurahan bertanya, “Itu istrinya?” Dalam pertemuan resmi atau tak resmi pembawa acara sering mengatakan, “Terima kasih atas kehadirannya”, tanpa menyadari bahwa sebenarnya ia berterima kasih bukan kepada tamu yang hadir dalam ruangan pertemuan, tetapi kepada pihak ketiga yang entah berada di mana.

Karena banyak orang tak mengetahui penempatan suku kata nya di tempat yang seharusnya, maka nya tidak dianggap sebagai varian ia/dia. Akibatnya, tidaklah mengherankan kalau dalam surat jawaban kepada pihak yang memintanya menjadi sponsor sebuah kegiatan, sebuah departemen menuliskan “Terima kasih atas pengertiannya”.

Nya juga sering dipakai oleh orang-orang yang tak mengetahui beda jamak dan tunggal. Di media cetak pernah ditemukan kalimat seperti ini: “para pengungsi meninggalkan rumahnya. Reporter televisi juga tak mau kalah menyalahgunakan nya sebagai bentuk varian ia/dia dalam bentuk jamak itu.

Yang tak kalah menarik adalah penggunaan kata kondusif. Seorang reporter televisi di Makasar menjawab rekannya di studio di Jakarta dengan mengatakan “kondusif”. Pertanyaan yang diajukan rekannya di Jakarta: bagaimana keadaan di Makasar setelah bentrokan mahasiswa dengan aparat keamanan dalam demonstrasi pagi itu.

Seorang wartawan media cetak seenaknya menulis, “Keadaan di Aceh saat ini kondusif”. Apa yang mereka maksud dengan kondusif? Aman? Tertib? Pulih?

Kata kondusif sendiri sebenarnya diambil begitu saja dari bahasa Inggris dengan hanya mengubah ejaannya. Namun, maknanya telah jauh bergeser. Kamus Inggris-Indonesia susunan John M Echols dan Hassan Shadily menjelaskan conducive adalah kata sifat yang berarti ’mendatangkan’, ’menghasilkan’, dan ’mengakibatkan’. Contoh: Exercise is condusive to good health ’latihan mendatangkan kesehatan yang baik’.

Apa artinya ini? Kita masih lemah berbahasa. Tampaknya “menguasai bahasa Inggris lisan atau tulisan” sebagai salah satu syarat diterima bekerja benar-benar tak masuk akal. Adakah orang seperti itu di negeri ini? Berbahasa Indonesia saja kita masih sering centang-perenang.

Kompas.Sori Siregar Penulis Cerpen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: