Angkringan Bukan Tempat yang Angker


Apakah kamu sudah makan di angkringan? Belum? Sayang! Sebaiknya kamu pergi langsung ke angkringan yang paling dekat nanti sore atau malam. Kenapa? Sebentar, aku menjelaskan.

Kalau belum tahu, angkringan merupakan tempat yang bagus sekali untuk makan, bertemu orang-orang yang baik, santai, minum, dan belajar budaya rakyat Jawa Tengah. Apa itu angkringan? Angkringan adalah warung yang kecil dengan atap oranye yang bisa dilihat di mana-mana di Yogyakarta. Katanya, ada angkringan di setiap kampung, mungkin bahkan di setiap jalan dalam kota. Ketika aku baru datang ke Yogya, aku melihat angkringan di mana-mana sambil jalan-jalan keliling kota. Aku belum tahu apa tempat itu, tapi aku sudah tertarik dan mencoba melihat ke dalam sambil melewatinya. Mungkin aku sedikit takut atau khawatir jangan-jangan tempat itu hanya untuk orang-orang asli, atau orang-orang yang duduk di dalamnya tidak ramah. Akhirnya, temanku mengantarkan aku ke sebuah angkringan yang sedang kami lewati. Meskipun sudah jam dua belas malam, banyak orang di sana minum, makan, mengobrol, dan tertawa. Begitu kami duduk, aku merasa aman dan senang. Malam itu aku mencoba makan setiap makanan yang ada di sana, antara lain gorengan-gorengan, kacang, nasi kucing, telur puyuh yang kecil, dan peyek. Kami minum jahe yang enak dan manis sambil berbicara dengan orang-orang yang ramah dan menarik. Kemudian aku pulang dan tidur dengan perut kenyang dan jiwa damai.

Sejak kunjungan pertama itu, aku kembali ke angkringan hampir setiap hari. Aku suka mencoba tempat yang baru dan bertemu teman-teman baru. Biasanya orang di sana cukup heran kalau orang asing mendatangi angkringan. Tapi, tanpa orang asing tempat itu sudah menjadi tempat yang mempertemukan dan mempersamakan orang-orang dengan asal, agama, tingkat sosial atau ekonomi dan okupasi berbeda. Bisa bertemu tukang becak, mahasiswa, dan pengusaha bersama di satu tempat.

Makanan di angkringan enak dan murah sekali. Bisa makan sampai kenyang hanya dengan tiga ribu rupiah. Beberapa angkringan punya makanan yang khusus seperti kepala ayam, hati ayam, tempe bacem, dan jadah. Kalau mau makan semua makanan itu, kita selalu bisa menemukannya di dua angkringan khusus yang besar, ramah, dan terkenal: Pakualaman di Jl. Sultan Agung dan Kopi Joss di dekat Stasiun Tugu. Di sana kita bisa juga menemukan sayur, yang tidak ada di angkringan biasa.

Selain bertemu teman yang baru, minum, makan, santai dan menikmati pengalaman kebudayaan, angkringan merupakan tempat yang bagus untuk praktek berbicara bahasa Indonesia di luar kelas, dan belajar beberapa ekspresi dalam bahasa gaul dan bahasa Jawa. Kalau kamu sering pergi ke angkringan, sesudah beberapa lama kamu akan bisa menggantikan ”Selamat malam” dengan ”Sugeng dalu”, ”terima kasih” dengan ”matur nuwun”, ”silakan” dengan ”monggo”, ”mari” dengan ”yuk”, ”tidak” dengan ”nggak”, ”saja” dengan ”aja”, dan ”sudah” dengan ”udah”.

Kamu bosan? Monggo, yuk ke angkringan!

(Jacob A. Nerenberg, eks murid dari Kanada, volunteer PBI)

Comments are closed.

%d bloggers like this: