Jesus Pengantara


Bagaimana Jesus memainkan peran antara hubungan dengan orang yang beragama? Apakah peran itu bisa dipakai sebagai contoh tanpa mengurangi posisi Pengantara di tengah manusia dan Allah seperti yang dimaksud dengan pikiran reformatoris?

Menurut dogma reformatoris Yesus sebagai Pengantara di tengah manusia dan Allah merupakan salah satu hal terpenting. Sejak Adam dan Hawa telah jatuh dalam dosa, manusia dan Allah dipisahkan dan tidak ada hubungan langsung dengan Allah. Karena dosa manusia, tidak ada kemungkinan untuk seseorang mendapat keselamatan dengan buatan sendiri, tetapi dia terus tergantung kepada Yesus yang membenarkan manusia. Pembenaran itu terjadi di Golgota waktu Yesus disalibkan di antara dua orang kriminal. Salah satu mereka minta perhatian Yesus ketika dia masuk ke sorga. Dan, Yesus menjawab bahwa dia memang akan masuk ke surga langsung bersama dengan Yesus. Tidak ada informasi lain mengenai orang tersebut, apakah agama, budaya atau lain. Jadi, pembenaran adalah keperluan untuk seluruh manusia. Jadi, Yesus sebagai mediator.

Walaupun sifat dogma itu sangat eksklusif Yesus sendiri tidak pernah mencari konfrontasi dengan pendapat lain. Oleh karena itu Yesus juga bisa diperlakukan sebagai pengantara atau mediator di tengah agama-agama dan khususnya berkaitan dengan “interreligious dialog” pada hari ini.

Tampaknya pada waktu zaman Yesus, di Palestina orang farisi dan ahli ahli taurat fundamental. Dia disangka oleh mereka terlibat gerakan melawan Negara Roma dan mendirikan sekte palsu yang menolak agama Yahudi. Tetapi hal itu tidak benar menurut Pontius Pilatus yang telah bilang: Tidak ada kesalahan pada diri Yesus. Bahkan hakim tersebut mengejek dakwaan mereka dan dia hanya menghakimi menurut pendapat bangsa Yahudi karena takut konsekuensi, bukan menurut keadilan. Berarti Yesus sebagai mediator yang ditolak oleh manusia. Baik sebagai perantara manusia dengan Allah maupun pengantara masing masing manusia.

Mengapa manusia memilih perjuangan dan tidak mau berdamai dan berdialog dengan agama lain? Mengapa manusia sering berpikiran terlalu sempit dengan nilai-nilai agama? Mungkin sebab itu bisa ditemukan dalam spiritualitas dan mentalitas manusia. Sekadar contoh. Di desa sederhana ada dua orang tua yang sanga saleh, salah satunya adalah seorang yang telah bertobat dan memiliki pendapat yang moderat dan luas mengenai hubungan dengan orang non-kristen, seorang yang lain kesalehnya tidak berani menerima non-kristen. Perbedaan di antara mereka adalah, yang pertama sudah mengenal orang non-kristen sebagai teman dekat. Tetapi orang kedua belum berhubungan dengan orang non-kristen. Jadi mengenal dan mendalami agama lain merupakan kunci dialog. Ketika manusia mengasihi dan menghargai orang lain sebagai ciptaan Allah manusia juga bisa mulai dengan dialog. Pertama kecurigaan harus diubah menjadi kepercayaan dan penghargaian dan saling menghormati, setelah itu orang kristen bisa ikut Yesus sebagai pengantara.

Hal-hal yang bisa diperhatikan dengan baik adalah nilai-nilai sosial sebagai hal praktis. Kelihatnya Yesus membahas bagaimana tradisi pada hari sabat, bagaimana hubungannya dengan sekte Samaria, bagaimana hal hal etis seperti korupsi (Simon Pemungut Cukai), bagaimana hal etis (Perempuan yang berzina) dan lain lain. Ketika Yesus dicobai oleh orang fundamental dia menolak mengasihi setiap orang tanpa syarat (termasuk non-kristen) dan para pelawan takut untuk mengasihi orang yang belum dikenal. Sekali lagi kenalan dan penghargaan pendapat orang lain merupakan dasar dialog yang tegas.

Senantiasa ketika Kisah Para Rasul diteliti dengan kritis bisa dikonstatir bahwa para rasul tetap ikut agama Jahudi. Mula mula mereka ditolak memasuki sinagoga karena pertentangan sosial, para Rasul meninggalkan persekutuan Jahudi. Tetapi tidak pernah mereka mencari konfrontasi tentang hal dogmatis dan praktis. Waktu mengunjungi Athene meskipun Paulus mencampurkan dengan orang non-kristen, dia mencari dialog dan persentuhan dengan agama lain. Tujuan dialog itu bukan menerima pendapat orang non-kristen dan Paulus tetap menargetkan kehidupan social dan etis. Waktu perkembangan dan penyebaran agama kristen tampaknya ada proses radikalisasi dan eksklusivisme. Nilai-nilai sistematis mendapat prioritas, dan gereja mulai dengan melestarikan tradisi-tradisi. Proses itu merupakan awal bahaya fundamentalis yang sempit. Langkah demi langkah perhatian sosial diberantas dan eksklusivisme dan fundamentalisme menjamur di gereja kristen. Waktu zaman gelap gereja di Eropa mempunjai banyak perlawanan sehingga kekerasan dipakai untuk mengerdilkan semua oposisi.

Akhirnya gereja harus dibebaskan dari semua eksklusivisme. Waktu abad 16 di Eropa gereja dipaksa berbalik ke situasi dan konteks dahulu yaitu lebih terbuka untuk spiritualitas lain yang berada di dalam gereja terlebih lebih di luar gereja yaitu orang non-kristen. Keadaan agama lain yang mempengaruhi spiritualitas dan sistematika kristen harus diperlakukkan dengan serius karena agama Kristen tidak lagi agama satu-satunya, tetapi ada agama lain misalnya agama Budha dan Islam. Nilai-nilai agama telah harus dikaji supaya dialog bisa direalisasikan, pendapat mengenai misi dan dakwah harus dipikirkan bersama dengan arti anugerah dan keselamatan. Proses itu berhasil dengan visi baru dan sangat revolusioner. Salah satu tokoh gerakan reformasi adalah Maarten Luther. Dia tetap mencari dialog dengan lurus dan tidak pernah mau dipisahkan dari gereja. Untungnya Luther dikeluarkan dari gereja Roman Katolik. Gerakan reformasi menjadi gereja reformatis dan tokoh kedua bernama Johannes Calvin jang juga mendalami relasi dengan gereja dan agama lain dengan pertanyaan kritis; bagaimana anugerah Allah bisa atau tidak bisa dialami ecclesiam nulus satus est, orang kristen harus berpikir apa yang dimaksud dengan ecclesiam. Kalau ecclesiam adalah suatu persekutuan spiritual yang tidak dibatasi oleh pikiran manusia, tetapi dipilih oleh Allah bagaimana orang non-kristen bisa partisipasi atau tidak? Awal abad 20 di German Karl Barth mengembangkan teologi baru sebagai reaksi pada perang dunia kedua. Menerut Barth fundamentalisme dan eksklusivisme menjadi kerusakan bagi masyarakat.

Aktualistas hari ini adalah toleransi, sesuatu magic world untuk mendamaikan dan melembutkan ketentangan masyarakat. Tetapi identitas dan tradisi dijaga sebagai sifat unik setiap agama dan budaya. Hanya karena identitas unik, dialog antara agama merupakan aktivitas yang sangat menarik. Yesus tetap mencari dialog itu untuk mencurahkan isi hati dengan menghormati dan menghargai orang lain. Memang orang yang beragama berdialog dengan senang ketika topik dialog adalah hal hal sosial dan praktis. Dengan proses itu orang yang beragama mencari jalan kehidupan bersama. Khusus di masyarakat multi agama, multi etnis dan multi budaya seperti di masyarakat Indonesia dan Belanda, toleransi adalah sesuatu yang magic world. Yesus bisa diikuti sebagai contoh pengantara di tengah agama kristen dan agama non-kristen. Tetapi apakah posisi dan arti Yesus dikurangi dengan visi ini? Apakah citra Yesus sebagai Juru Selamat yang membenarkan dan membebaskan manusia, atau dengan kata lain Pengantara manusia dan Allah, bisa dicampur dengan citra lebih praktis dan sosial. Bagaimana dengan garis vertikal (manusia dan Allah) dan garis horizontal (garis manusia di antara mereka) yang harus diseimbangkan. Toleransi punya batas dan batas harus ditoleransi. Hanya dengan spiritualitas yang benar, agama lain bisa diterima dan dihargai tanpa mengurangi identitas unik agama masing masing. Kalau begitu, orang kristen bisa beriman kepada Yesus sebagai pengantara di antara manusia dan Allah, dan bisa mengikuti Yesus sebagai contoh berdialog lewat sambil lalu.

(Penulis adalah seorang dosen STT Sundermann Nias, Indonesia. Pendeta yang diutas dari Protestantse Kerk in Nederland. Penulis adalah eks murid)

Comments are closed.

%d bloggers like this: