Kota Gede


Hari Selasa saya, kelas ASEAN dan beberapa guru pergi ke Kota Gede. Kota Gede terletak di sebelah tenggara Wisma Bahasa. Kota Gede disebut kota lama karena kota ini dibangun sejak tahun 1600-an. Kota ini punya sejarah yang sangat menarik. Di kota ini saya bisa melihat banyak pengaruh Jawa juga Hindu dan Islam. Jaman dahalu Kota Gede adalah hutan saja, tidak ada pasar dan tidak ada turis di sana.

Kota ini dibangun oleh Panembahan Senopati. Beliau mengembangkan kota ini sampai seperti sekarang. Waktu Panembahan Senopati, beliau membuat masjid, pasar dan juga mendatangkan perajin perak dan emas. Tentang hal perak ini ada sejarah juga bagaimana Kota Gede bisa disebut kota perak. Kerajinan perak mulai berkembang di Kota Gede pada tahun 1600-an. Saat itu Panembahan Senopati mendatangkan perajin perak dan digunakan dalam pembangunan Kraton Kasultanan dan perlengkapan upacara kerajaan. Kerajinan perak menjadi bisnis besar bagi masyarakat Kota Gede sejak tahun 1930-an ketika beberapa orang mendapat pesanan dari perusahaan-perusahaan Belanda dan negara Eropa lainnya.

Sejak itu berdiri banyak perusahaan besar yang mengekspor produknya, diantaranya HS Silver yang berdiri tahun 1953. Harga produk HS Silver mulai Rp. 17.000,00 untuk sebentuk cincin hingga 82 juta rupiah yang berupa dinner set. Di kedai perak ini, beberapa teman membeli produknya. Dia juga bilang bahwa produk perak di sini tidak mahal. Ini adalah hal yang menarik dan mendatangkan orang-orang dari seluruh Indonesia dan juga orang asing yang suka dengan perak datang ke Kota Gede untuk melihat.

Sebenarnya di kota ini bukan hanya ada perak yang menarik perhatian turisme, tetapi ada lain-lain lagi. Ada apa di sana! Anda harus mengunjungi kota ini sendiri! Selamat datang ke Kota Gede!

(Nitchaya Nik-ngoh (Na) – eks murid, diplomat Thailand)

Comments are closed.

%d bloggers like this: