Saya Senang Belajar di Wisma Bahasa


Saya sudah belajar di Wisma Bahasa selama tiga bulan supaya saya cukup lancar untuk bekerja untuk sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Aceh. Sebelum saya mendatangi Indonesia, saya belajar sedikit saja. Terus terang, saya merasa sedikit skeptis pada ide Anda bahwa bisa menjadi cukup lancar sesudah 3 bulan.

Namun, saya belajar di Wisma Bahasa empat jam sehari. WB mengadakan beberapa “field trips” ke beberapa dosen atau pegawai LSM, berpresentasi di Wisma Bahasa tentang HAM dan Aceh, dan ada banyak materi relevan di dalam kelas. Guru-guru sudah membantu saya bertemu dengan orang menarik di sekitar Yogya. Misalnya, saya mengunjungi pengungsi Timor Timur (Timtim) di Wonosari dan mewawancarai seorang pro-integrasi Timtim di Yogya. Oleh karena itu, saya punya pengalaman yang menarik, berguna, dan relevan pada pekerjaan saya.

Tentu saja, kadang-kadang saya merasa sedih karena saya melakukan banyak kesalahan dengan tatabahasa atau saya tidak bisa ingat kosakata yang baru. Kadang-kadang, bagus atau lucu melakukan kesalahan. Misalnya, teman saya bilang kepada ibu kos, “Kami pergi ke Malioboro untuk mencuri baju” (Dia bermaksud bilang “mencari”). Lain kali yang lain menyatakan “Oh, bagus!!” sesudah mendengar cerita tentang seorang yang meninggal di sebuah danau (dia berpikir orangnya sudah “meninggalkan”).

Tentu saja, saya tidak pernah melakukan kesalahan seperti itu! Dan kalau ada, saya tidak akan menulisnya di sini.

Stuart Bowman -Seorang relawan Peace Brigade Internationa, mantan murid

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: