Si Bungsu yang Malang (1)


Tersebutlah di sebuah desa yang tenteram, tinggal sebuah keluarga besar dan kaya yang dipimpin seorang bapak yang tegas, keras dan kolot. Bapak itu punya 27 anak yang dia ambil dari sana-sini, ada yang dari keluarganya sendiri tetapi juga ada yang telah dia ambil dari panti asuhan, bahkan ada juga salah satu yang dipu ngut dari keluarga berantakan.

Konon, ke-27 anak itu berasal dari berbagai suku bangsa, bahkan ada yang punya bahasa dan adat istiadat sendiri-sendiri. Memang bapak itu mengalami kesulitan untuk mengurus begitu banyak anak dan demi kerukunan rumah tangga dia berusaha untuk menyatukan keluarganya lewat satu bahasa dan satu kerangka peraturan yang dia tegakkan dengan tangan besi.

Meskipun begitu, bapak itu sangat baik hati berkat merangkul semua anaknya ke dalam satu keluarga besar, tanpa pandang bulu. Semua anak itu sudah dia sekolahkan dan dia belikan pakaian baru, khususnya anak bungsunya. Bapak keluarga besar sangat sayang pada anak bungsu tersebut karena dulu terlantar oleh keluarganya dan si bapaklah sendiri yang menyelamatkannya. Bahkan, si anak bungsu telah dia anakemaskan. Akan tetapi, anak tersebut ternyata susah diatur dan agak bandel. Dihadapkan dengan anak bandel itu bapak keluarga besar bersikap keras dan tanpa tedeng aling-aling menjatuhkan hukuman demi kerukunan rumah tangga. Bapak itu berpendapat bahwa si bungsu yang bandel itu seharusnya bersyukur karena telah disekolahkan, dibelikan baju baru, diberi uang saku dan diatur dengan baik.

Suatu ketika, ketenteraman desa keluarga besar diusik beberapa peristiwa yang meresahkan warga setempat. Beberapa kali si anak bungsu, yang agak bandel itu, masuk sekolah dengan mata bengkak dan lebam. Guru-guru dan orang tua teman-teman sekolahnya bertanya,”Gimana matamu, kenapa bengkak dan lebam”? Anak bungsu bercerita bahwa dia telah dipukul oleh bapaknya sendiri. Peristiwa serupa makin lama makin sering terjadi, bahkan bukan hanya si bungsu yang pernah merasakan telapak tangan bapaknya sendiri. Beberapa anak keluarga besar tampil di pasar, di sekolah dan di taman kanak-kanak dengan bekas luka akibat hukuman bapaknya sendiri.

Awalnya, pendapat dan perasaan tetangga-tetangga keluarga besar tentang cara mengurus anak bapak keluarga besar mereka pendam. Gara-gara keresahan yang telah mengacau-balaukan kehidupan tenteram desa itu keluarga besar telah menjadi buah bibir orang setempat, orang di pasar, di warung, di jalan, bahkan di sawah juga, semua ramai berbisik-bisik, mengguman dan menggerutu tentang cara bapak keluarga besar mengatur anak. Orang yang tidak begitu mengenal keluarga besar, secara blak-blakan menyampaikan kejijikannya akan kekerasan kepada si bapak itu. Sementara yang lebih mengenal bapak keluarga besar, memilih bersikap lebih moderat dan berusaha untuk memahami betapa sulitnya untuk mengatur begitu banyak anak yang berbeda-beda latar belakang. Ada juga yang sama sekali mengabaikan peristiwa-peristiwa tersebut karena tahu bahwa si bapak itu begitu keras kepalanya, dan tidak bisa ditentang. Dan bagaimanapun juga, dia sangat kaya dan mempunyai keluarga yang paling besar dan berpengaruh di desa itu. Akan tetapi, pada umumnya warga desa tersebut bersikap negatif terhadap si bapak itu. (bersambung)

Comments are closed.

%d bloggers like this: