Si Bungsu yang Malang (2)


Lama kelamaan, bapak keluarga besar menjadi sadar dan mulai merasakan ketidaksukaan warga setempat. Dia tidak diundang lagi pada arisan bapak- bapak dan sering diabaikan waktu jajan di warung. Karena marah, tersinggung dan hampir putus asa saking sulitnya mengatur si anak bungsu yang bandel itu, dia menjatuhkan sebuah ultimatum kepada anak tersebut, “Kalau kamu mau tinggal terus di rumah ini dan menikmati semua hasil jerih payah orangtuamu, kamu harus ikut aturan main di rumah ini. Kalau nggak, ngomong aja nggak mau dan minggat saja!” Begitu ditegur bapaknya, anak bungsu yang bandel itu langsung pergi ke kamarnya dan dengan berat hati mulai mengepak barangnya. Beberapa saudara si bungsu yang bandel itu masuk ke kamarnya dan berusaha untuk meyakinkan dia bahwa dia harus tetap tinggal di keluarga besar itu karena tidak akan mampu hidup sendiri; bahkan dia seharusnya bersyukur karena telah diselamatkan dan dianakemaskan oleh bapak mereka. Akan tetapi, si anak bungsu tetap ngotot pergi gara-gara tak mampu melupakan betapa pahit pengalamannya di keluarga besar. Saking panasnya emosi di kamar si bungsu, dia berantem dengan saudaranya sendiri dan sempat berteriak minta tolong.

Hiruk-pikuk di kamar si bungsu sempat kedengaran beberapa tetangga keluarga besar. Ada yang mendatangi bapak keluarga besar dan bertanya, “Ada apa sih? Kenapa ada teriakan minta tolong?” “Bukan urusanmu… tanya-tanya segala! Memangnya kalian siapa? Datang ke rumah dan campur tangan dalam urusanku… enak aja!” tegurnya. Di sela-sela rentetan omongan si bapak itu, terdengar teriakan-teriakan si anak bungsu yang minta tolong kepada tetangganya yang sudah berkerumun di sekitar rumah keluarga besar.

Dari tengah kerumunan itu terdengar, “Jangan perlakukan anakmu seperti itu, dia juga manusia yang punya hak.” “Kalian nggak mengerti betapa sulitnya ngatur begitu banyak anak, aku perlu bersikap keras dan tegas demi kerukunan rumah tangga. Pergilah kalian semua! Biarkan aku ngurus anakku sendiri,” hardik si bapak itu.

Mendengar kata-kata kasar bapak keluarga besar, warga setempat semua jadi bingung. Beberapa di antara mereka mau masuk ke rumah keluarga itu dan menyelamatkan si anak bungsu yang berteriak minta tolong. Tapi, beberapa yang lain mengingatkan bahwa bukan hanya bapak keluarga besar yang keras, kejam, dan kolot tetapi dia juga punya banyak anak yang sama gilanya. Saking bingungnya warga setempat, mereka memutuskan untuk mengadakan rapat lingkungan untuk mencari jalan keluar dan mengembalikan desa itu kepada suatu keadaan yang tenteram, damai dan tenang.
Rapat tersebut berlangsung beberapa waktu sebelum diambil sebuah keputusan. Sementara, selama rapat itu si anak bungsu yang bandel itu tidak keluar dari rumahnya, namun teriakan-teriakannya sempat terdengar terus oleh tetangganya.

Akhirnya dewan warga memutuskan untuk turun tangan dan mendamaikan kembali keadaan di desa mereka. Akan tetapi, di antara kepala keluarga yang duduk dalam dewan tersebut tidak ada yang berani menentang si bapak keluarga besar serta anak-anaknya. Akhirnya dewan warga itu menunjuk tetangga terdekat keluarga besar untuk bertindak atas nama dewan warga. Sebenarnya si tetangga terdekat adalah tetangga yang mempunyai hubungan yang terbaik dengan keluarga besar dibanding warga lain di desa itu. Anak-anak si tetangga terdekat itu sering main ke rumah keluarga besar dan orangtuanya itu sudah lama berusaha untuk memahami betapa sulitnya mengatur begitu banyak anak. Namun, akhirnya anak-anak si tetangga terdekat sendiri bersimpati kepada si anak bungsu yang malang dan mengimbau agar orangtuanya bertanggung jawab sebagai warga yang baik dan menghadapi si bapak keluarga besar langsung dan kalau perlu masuk ke rumah keluarga besar dan menyelamatkan si anak bungsu yang malang.
Selama beberapa hari, si bapak tetangga terdekat sering terganggu tidurnya sebelum dia ambil sebuah keputusan untuk bertindak. Dan karena dia yang paling tahu sifat kejam si bapak dan anak-anak keluarga besar, dia memutuskan untuk bertindak tegas dan keras, namun tidak sebelum berkonsultasi dengan si bapak keluarga besar.

Berhadapan dengan tetangga terdekatnya yang bertindak atas nama dewan warga dan karena takut akan dikucilkan oleh warga setempat, si bapak keluarga besar tunduk kepada keinginan warga setempat dan dia perbolehkan tetangga terdekatnya masuk ke rumah dan mengambil si anak bungsu yang bandel. Begitu masuk ke kamar si anak bungsu, anak-anak si tetangga terdekat sempat takjub lantaran diserang oleh anak-anak keluarga besar. Begitu melihat si anak bungsu terlentang di lantai berlumuran darah di tengah barang-barangnya yang berantakan dan porak poranda, anak-anak si tetangga terdekat terkesima, jijik lalu marah. Begitu melihat keadaan si anak bungsu yang malang dengan mata kepalanya sendiri, dengan hati tersayat, mereka mengambil sikap yang lebih tegas lagi terhadap keluarga besar.

Memang tetangga terdekat itu mengalami kesulitan dalam usahanya untuk meyelamatkan si anak bungsu dan beberapa anaknya sempat terluka karena diserang anak-anak keluarga besar. Namun, akhirnya si tetangga terdekat berhasil menyelamatkan si anak bungsu dan semua warga setempat bergotong royong untuk membangun sebuah rumah baru untuk si anak bungsu yang malang.

Beberapa waktu kemudian, si bapak keluarga besar dan anak-anaknya ngambek dan memusuhi tetangga terdekatnya dan anak-anak kedua keluarga itu sempat saling memaki. Akan tetapi, lama kelamaan hubungan di antara kedua keluarga tersebut membaik dan memang keadaan di desa itu kembali ke normal dan semua warga setempat bersyukur bahwa peristiwa itu sudah selesai.

Tetapi langit tak selamanya biru, dan pada suatu malam seorang anak dari desa itu melewati rumah keluarga besar dan sempat mendengar teriakan-teriakan minta tolong dari dalam rumah tersebut. Sebenarnya anak itu mengenali suara itu sebagai suara anak tertua keluarga besar. Dia juga sempat mendengar suara si bapak keluarga besar, “Kalau kamu mau tinggal terus di rumah ini dan menikmati semua hasil jerih payah orangtuamu, kamu harus…” (Tamat)

Glenn Connolly, mantan murid dari Australia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: