Tajam Tepercaya


Hanya oleh karena satu hal, saya berat pinggul menonton tayangan sebuah stasiun televisi. Apalagi beritanya. Betapa tidak. Ia mengumbar cogan untuk warta liputannya: tajam terpercaya.Bagaimana saya bisa percaya? Patokan tata bahasa mendasar pun ia tak celik. Bukankah para pewarta sampai produser di pelbagai media saat ini paling tidak lulusan sarjana, sementara kaidah pengimbuhan ber- dan ter- pada kata dasar bahasa Indonesia merupakan bahan ajar tingkat sekolah lanjutan atas?

Salah satu ketentuan itu: awalan ber- dan ter- bersulih menjadi be- dan te- jika ditambahkan pada kata dasar yang suku pertamanya berakhir dengan /er/.

Berkerja atau bekerja? Berpergian atau bepergian? Berserta atau beserta?

Hari gini pasti tak ada yang gontai memilih bekerja, bepergian, dan beserta. Itu benar sebab suku pertama kata dasar dari ketiga bentukan itu adalah ker-ja, per-gi, dan ser-ta, masing-masing berakhir dengan bunyi /er/.

Terbersit atau tebersit? Tercermin atau tecermin? Terpergok atau tepergok?

Dugaan saya, tak segala sebiduk sehaluan. Penjelasan untuk itu sederhana saja. Sudah telanjur matang di benak pengguna bahasa Indonesia bentukan-bentukan yang akhir-akhir ini tidak mengindahkan kaidah. Akan banyak yang memilih tebersit, tercermin, dan tepergok. Dua dari tiga pilihan itu akur dengan resep pengimbuhan yang tadi disebut, tepergok dan tebersit, sementara tercermin menyimpang dari ketentuan. Seharusnya: tecermin!

Mumpung tahun ini kita memasuki 80 tahun Sumpah Pemuda, marilah mulai kembali ke laptop: berbalik kepada aturan fonologi yang-saya kira-masih perlu kita rawat. Formula fonologis untuk pengimbuhan kata-kata dasar bahasa Indonesia yang dulu-dulu itu konon sudah ajek dengan lidah kebanyakan orang Indonesia.

Itu kan dulu? Sekarang banyak golongan terpelajar Indonesia yang cas-cis-cus ngomong segala bahasa Barat. Pastilah lidah mereka tak kelu mengucapkan berkerja, berpergian, berserta, terbersit, tercermin, dan terpergok!

Maaf, saya tak percaya. Tak sedikit dari mereka yang berbahasa Inggris dialek Bali, Batak, Bugis, Jawa, Minang, Sunda, atau Timor. Ini tentu sah-sah saja. Soalnya, orang bule-menurut Benedict ROG Anderson dalam buku Onze Ong, kata bule ini berasal dari dia untuk menggantikan londo-ketika berbahasa Indonesia juga memperdengarkan logat asli mereka dalam bahasa masing-masing.

Apa yang salah dengan tajam terpercaya?

Kali ini saya tak mau disibukkan dengan pilihan stasiun televisi itu mengajektifkan berita dengan tajam. Sehubungan dengan tema hari ini, mari menyimak bentuk terpercaya.

Kata percaya-mudah-mudahan tak ada di antara kita yang menganggap kata ini bentukan dari per+caya-termasuk kata dasar yang suku pertamanya (per-caya) berakhir dengan bunyi /er/. Sejalan dengan kaidah pengimbuhan ter-, bentukan yang mengikuti aturan tentu saja tepercaya.

Jika mulai besok atau minggu depan slogan tajam tepercaya menggantikan tajam terpercaya, rasanya saya mulai mau menekan tombol memilih saluran stasiun televisi itu. Tentu saja dengan syarat, penyiarnya tak boleh menitiskan air mata sewaktu melaporkan berita duka.

Sumber: Kompas

Comments
One Response to “Tajam Tepercaya”
  1. Dwani says:

    Hai teman-teman WB?Apa kabar?Masih ingat aku kan?Aku kangen banget dgn kalian (Wah sorry ya tidak pake bahasa Indonesia yg baik dan benar).Smoga tambah sukses selalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: